
Panggung teater beberapa waktu ke belakang memang tengah ramai dengan aksi-aksi pertunjukan musikal. Tercatat, setidaknya ada tiga karya musikal besar yang hadir hingga akhir tahun lalu, seperti Onrop!, Laskar Pelangi, dan yang terbaru adalah Jakarta Love Riot yang dipentaskan pada pertengahan tahun utnuk menyambut ulang tahun kota Jakarta. Sukses lewat pertunjukan pertama, Jakarta Love Riot (JLR) kembali dipentaskan Eki Dance Company pada 23 – 27 Februari 2011 lalu di Gedung Kesenian Jakarta.
Masih mengangkat tema cerita yang kurang lebih sama dengan pementasan tahun sebelumnya, karya musikal yang disutradarai oleh Rusdy Rukmarata juga kembali mendapuk nama-nama pemain lama seperti Sarah Sechan, Bayu Oktara, Uli Herdinansyah, Arie Dagienk, Ira Duaty, Yayu Unru, Takako Leen, Ari Prajanegara, dan Felicia Chitraningtyas. Meski begitu, ada sajian baru yang coba disuguhkan Rusdy kali ini, baik dari segi penekanan alur cerita yang melebar dan agak kompleks, tarian yang lebih variatif serta komunikatif, maupun bertambahnya durasi musik pengiring.
Baru dibuka saja, penampilan pertama yang dimulai Rabu malam langsung menyentak para penonton dengan tarian neon ala film Tron: Legacy yang begitu memukau. Sebagaimana subjudul “Cinta Campur Citra Cuma Cari Cekcok”, JLR mengawali kisahnya dengan hadirnya Toto, seorang pemuda kelas bawah yang hanya seorang penjual soto di tengah lingkungan elit, yang ingin menemui sang pujaan hati, Nala. Namun, kehadiran Toto nampaknya mendapat penolakan, baik dari pihak keluarga maupun lingkungan pergaulan wanita yang ia cintai, karena perbedaan kelas status sosial.
Sementara itu, Nala yang berada pada strata sosial keluarga kaya raya dan terpandang harus menemui dilema saat ibundanya (Sarah Sechan) yang terkenal keras dan otoriter mengetahui dan menentang hubungannya dengan Toto. Begitupun sebaliknya, Toto dihadapkan pada kebimbangan antara tetap memperjuangkan hubungannya dengan Nala atau lebih memilih teman wanitanya yang diketahui selama ini juga memendam rasa terhadap dirinya.
Konsep yang dihadirkan pada JLR jilid 2 memang terbilang cukup berwarna. Bukan hanya dari sisi kostum dan tata cahaya saja, perubahan pada beberapa adegan serta konflik yang berkembang juga menjadi daya tarik tersendiri. Adanya improvisasi tersebut tentu berdampak pada bertambahnya jumlah pemain. Oleh karena itu, tak ayal jika Rusdy harus melibatkan sekitar 286 pekerja seni dalam pementasannya.
Tidak hanya itu, banyak kejutan yang coba dihadirkan selama berlangsungnya JLR. Sebut saja di antaranya ketika musisi jalanan, atau mungkin akrab di telinga kita dengan sebutan pengamen, muncul dari arah belakang penonton menyusuri jalan tengah menuju panggung seraya membawakan sebuah lagu. Aspek cerita memang klasik, tapi justru itu yang membuat penonton mudah mencerna pesan yang tersirat.
Secara keseluruhan, Jakarta Love Riot terbilang cukup sukses dan jika harus ada tokoh sentral yang menjadi pusat perhatian, mungkin Sarah Sechan dan Bayu Oktara adalah pemenangnya. Walau keduanya bukanlah pemeran utama dalam pertunjukan, mereka cukup berhasil mencuri perhatian penonton dengan balutan komedi yang dibawakan.
Satu catatan penting, sekali lagi dunia pementasan teater yang dahulu kurang diminati kaum muda, justru berbalik arah ketika melihat kursi-kursi penonton didominasi mereka yang masih belia. [PAN]



